Rabu, 22 September 2010

Wardrobe Job

Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia fashion, saya secara tidak langsung juga terlibat dalam pekerjaan  orang lain. Salah satunya adalah wardrobe di film. Apa itu wardrobe? silakan cek di sini.


Seorang film wardrobe harus menyiapkan busana seluruh pemeran dan asesorisnya yang diperlukan untuk syuting film. Saya kenal beberapa orang. Koq bisa? Karena mereka menggunakan produk dari perusahaan saya untuk keperluan syutingnya. Ada syuting sinetron, iklan, ada pula syuting film. Saya lebih tertarik pada film wardrobe.

Saat ini, sebuah production house sedang syuting film yang naskahnya diambil dari sebuah buku karangan seorang penulis terkenal. Setting film tersebut adalah sekarang atau taun 2010an. Mba wardrobenya, sebut saja Mita (bukan nama sebenarnya) adalah seorang desainer (katanya), terlihat dari cara dia memakai busana yang lain dari biasanya. Tapi bukan jaminan juga sih, banyak desainer yang saya ketahui tidak terlalu stylish. Banyak juga teman saya yang bukan desainer tapi berpakaian sangat stylish. Oke, kembali ke topik, wardrobe.

Mba Mita bekerjasama dengan perusahaan saya untuk mengakomodasi pakaian untuk para pemeran wanita di film yang sedang syuting tersebut. Awalnya, saya pikir memilih pakaian sesuai karakter peran itu ternyata cukup sulit. Tapi kesulitan itu bisa dikurangi dengan adanya sponsorship dari brand busana. Brand tersebut akan menyediakan beberapa busana untuk kemudian dipilih oleh mba Mita yang cocok dengan karakter peran yang diinginkan. Jadi, mba Mita gak perlu krasak krusuk keluar masuk banyak mall untuk mencari busana yang diinginkan. Setelah saya observasi, ternyata, pekerjaannya tidak terlalu sulit (nampaknya).

Tapi kemudian saya melihat film Indonesia yang sudah tayang di bioskop. Film itu mengambil setting akhir tahun 1800an. Wah, ini yang sulit menurut saya. Mencari, mengumpulkan, mencocokan, observasi, membaca referensi wajib dilakukan demi mendapatkan pakaian yang tepat untuk peran yang tepat pada masa yang tepat dan pada adegan yang tepat. Kebanyakan busana yang dibutuhkan tersebut tentunya sudah jarang tersedia dimanapun.

Saya jadi amat sangat tertarik sama pekerjaan sebagai wardrobe ini. Ah, suatu saat saya mau mencobanya. Dare to challenge me?

Kamis, 16 September 2010

a pair of red flat shoes

Saya penyuka sepatu merah, marun tepatnya. Bagi saya, merah adalah warna basic yang bisa saya padankan dengan warna apa saja, kecuali ungu -belum pernah saya coba.

Terinspirasi oleh salah seorang pimpinan di perusahaan saya, warna merah menjadi salah satu warna wajib diantara koleksi sepatu saya. Setidaknya, saya harus punya satu pasang.

Sepatu merah pertama yang saya punya jenis open-toe (terbuka dibagian depan, jempol dan telunjuk kaki nongol dikit, cmiiw). Desainnya sporty, bahan kanvas, ada list putih dibagian pinggiran sepatu dan dibagian open-toe nya. Sol sepatunya mirip sama street shoes keluaran merek sport ternama. This shoes is sooooooooooo me.. :). Sepatu ini udah pensiun sejak tahun 2008 (saya beli 2007) karena bagian open-toenya ada yang copot akibat frekuensi pemakaiannya yang tinggi.

Sepatu kedua, modelnya lebih cewek dan terbuat dari kulit imitasi. Agak mengilap dikit, dengan sol tipis dan sedikit licin. Sepatu ini menemani saya sampai 2009.

Sepatu ketiga saya beli akhir 2009. Desain sepatunya mirip sama sepatu Puma yang saya taksir sejak pertengahan 2009. Tapi apa daya, saya gak sanggup beli merk terkenal ituh :(. Sepatu ketiga ini hanya bertahan hingga akhir Agustus kemaren. Bagian dalam solnya copot karena sering keujanan dan kebanjiran.. hehehe..



Note : sebenernya sepatu ketiga gak terlalu mirip ini sih, tapi karena di web Puma udah gak ada foto sepatu yang saya maksud, jadi saya pejeng yang ini.. :P


Daaaaann.. sepatu merah terakhir yang saya punya adalah studded (gambarnya belon bisa saya uplot). Sepatu  nya dari bahan suede, dengan studed di bagian depan dan belakang sepatu.

So what is your must-have-color shoes? share with me! ;)

Selasa, 31 Agustus 2010

Panitia

saya, sejak beberapa tahun terakhir ini, selalu ditodong untuk menjadi 'panitia' buka puasa bersama. saya, dulu, sangat senang dan mengambil tawaran itu karena saya senang bersilaturahmi. saya tahun kemaren mampu mengumpulkan 58 orang temen temen SMP saat buka puasa bersama.

sampai pada suatu saat, saya, merasa jenuh. apa sih yang ingin saya cari dari menjadi penyelenggara acara? eksistensi? gak usah jadi panitia juga saya udah eksis. tenar? beuh.. udah tenar dari orok! lalu? pada akhirnya saya tidak menemukan jawaban atas pertanyaan saya itu. akhirnya saya memutuskan, tahun ini saya off jadi 'panitia' diacara buka puasa manapun.

bulan Ramadhan 1431 H tiba.

kembali, saya, ditodong untuk jadi panitia. saya, memutuskan untuk menolak. saya kan sudah berkomitmen untuk tidak jadi 'panitia'. sampai suatu saat saya 'gerah' karena teman teman gada satupun yang berinisiatif mengadakan acara. lebih gerah lagi, ketika teman teman seangkatan dari SMP menanyakan acara tahun ini, tapi takada satupun yang berinisiatif untuk mengadakannya.

akhirnya, saya dan seorang sahabat SMP, memutuskan untuk mengundang teman teman hadir di acara buka puasa di salah satu rumah makan terkenal di jalan Trunojoyo melalui sebuah situs jejaring sosial. banyak teman merespon, tapi tak sedikit pula yang menolak, yang 'abu abu' malah lebih banyak lagi.

pada tanggal yang telah ditentukan, kami menghubungi teman teman via sms. banyak yang menjawab tak bisa hadir, ada juga yg menjawab bisa hadir. tapi, ada juga yang kebingungan, karena dia mendapatkan DUA undangan yang sama dari temen temen SMP dan tempatnya berdekatan pada tanggal yang SAMA pula. saya dan sahabat bengong dan mikir. WHAT? DUA? siapa yg bikin acara?

usut punya usut, selidik punya selidik, akhirnya kami tau siapa penyelenggaranya. dan, kami tidak kaget, karena memang kami sudah menduga sebelumnya. saya, selalu tak habis pikir. saya, sedih. saya, marah. saya,  tidak suka atas kejadian ini.

sebuah rencana yang matang, kembali mentah.

saya sekarang baru tau. bukan menjadi panitia yang membuat saya malas menjadi 'panitia'. tapi oknum oknum yang membuat acara saya menjadi mentahlah yang membuat saya malas. saya alergi orang rese.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...