Rabu, 24 November 2010

menjadi stylish adalah pilihan?



Sebagai salah seorang pekerja di industri fashion, saya dituntut harus mengerti dan memahami dunia fashion itu sendiri. Dunia fashion itu sangat dinamis. Perubahannya bisa secepat dan semudah membalikan telapak tangan. Setiap tahunnya selalu ada pencanangan mengenai tren, baik itu pada pakaian, sepatu, asesoris, tas dan lain sebagainya. Saya perhatikan, umumnya, tren itu selalu berulang.







Saya bukan penyuka tren, tapi saya suka fashion dan sedang berusaha untuk menjadi stylish. Apa itu stylish? Silakan baca ulasan Hanzky dari Fashionese Daily tentang stylish di sini. Saya kutip sebagian dari tulisannya Hanzky.

 "........ To have a style, you have to know what works and looks best on you, your shape, your skin color and what fits your personality. Style is usually influenced by things like culture, nationality, music, arts, age and a myriad of other factors. It’s something that is so you. Being stylish is about looking good and dressing according to the occasion, whether or not the clothes are from the current trend is irrelevant. You can be stylish without being fashionable." 

Saya setuju dengan pendapat Hanzky di atas. Menurut saya, stylish tidak diukur dari bagaimana dia selalu mengikuti tren dengan langsung diaplikasikan pada gaya berpakaiannya sehari-hari, tapi bagaimana dia dapat mengaplikasikan model pakaian yang tepat bagi bentuk tubuhnya pada saat yang tepat di tempat yang tepat pula. Being stylish is truly being your self and its comforting you. Semuanya berpulang pada rasa percaya diri masing masing.

Sebelumnya, saya sangat jauh dari dunia fashion apalagi punya keinginan untuk terlihat stylish. Saya jadi ingat, jaman saya SMP - SMA dulu, saya sering mengamati cara teman teman saya memakai baju. Saya tidak terlalu memikirkan apa kekurangan dan kelebihan dari tubuh saya. Apa yang happening saat itu pasti saya ikutan beli dan ikutan pakai, padahal belum tentu cocok buat saya. Jaman SMA dulu, brand is number one! Gak peduli bentuknya kayak apa, cocok apa engga, yang penting branded! Gengsi sangat penting banget waktu itu. Baju saya pun terbatas, karena urusan brand yang mahal bikin orang tua membatasi saya untuk gak menghabiskan uang hanya untuk pakaian. "Masih banyak yang lebih penting!" gitu kata orang tua saya.

Memasuki kuliah yang notabene gak pake seragam, mewajibkan saya untuk mulai berpikir keras bagaimana agar terlihat keren dan stylish setiap hari dengan pakaian yang berbeda tapi dengan budget terbatas. Saya dan teman sering kali hunting ke Cimol (tempat jual baju baju bekas pakai impor) karena harganya yang murah meriah. Saya pun mulai bisa bernapas lega. Sedihnya, saya harus bangun lebih pagi untuk mikirin hari ini pake baju apa ya? what a classic story, huh? :D Menjadi suatu kebanggaan bagi saya ketika ada seorang teman yang memuji saya dengan bilang, "Dewi pake baju apa aja pasti keliatan keren dan enak diliat". Sekarang saya jadi tau apa maksud perkataannya, i'm stylish!! hehehe...

Saya banyak mengamati teman teman disekitar saya sejak dulu sampe sekarang. Dan, menurut saya, menjadi stylish itu pilihan. Banyak teman yang ogah ribet seperti saya, yang mau pake baju apa hari ini energi mikirnya sama dengan mikirin ujian tengah semester. Teman saya kebanyakan anak kost yang bajunya gak banyak. Kadang, baju yang sama dipake dua hari berturut-turut. Wuih, bukan gue banget itu mah! :P Banyak juga teman saya yang punya satu model baju tapi bisa dibikin sampe dengan 10 motif yang berbeda.. Niat banget! hahaha.. Tapi bisa jadi, dia udah nyaman dan cocok dengan model baju seperti itu, makanya dia bikin lebih dari satu.

Ada juga sahabat saya yang menurut saya amat sangat stylish. Saya banyak mendapat inspirasi dari dia. Ya jelas, karena profesi dia desainer. Eh, tapi, teman saya yang lain, sama sama desainer juga ada yang tidak terlihat stylish. Tapi saya akui, saya sangat moody. Pada suatu saat saya terlihat stylish, pada saat yang lain saya terlihat sangat tidak stylish. 


Oya, saya juga pernah sedikit berpikir tentang korelasi antara stylish dengan ketersediaan dana yang cukup untuk mendukung itu. Stylish kemungkinan besar lebih didominasi oleh para wanita dan atau pria yang berdaya beli tinggi. Untuk golongan ekonomi lemah, punya baju lebih dari satu saja sepertinya sudah sangat bersyukur. Tapi pemikiran saya itu kemudian dipatahkan oleh mata saya sendiri. Ada beberapa orang teman yang termasuk kalangan the haves, tidak terlalu stylish. Entah karena alasan berhemat, memang tidak terlalu interest utk menjadi stylish, jarang mencari informasi atau kelewat pelit? hehehe... 


Nah, seperti saya bilang tadi, menjadi stylish itu pilihan. What do you think?



Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...